KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah pusaran tantangan global dan tekanan fiskal nasional, Pemerintah Kota Kendari tampil dengan pendekatan berbeda. Tak ingin terjebak dalam rutinitas birokrasi yang stagnan, Pemkot menggelar Rapat Strategis Percepatan Pertumbuhan Ekonomi dengan menggandeng seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam satu ruangan strategis, Kamis (24/7/2025). Forum ini bukan sekadar seremoni koordinasi, tetapi pertemuan terukur yang membahas sembilan langkah konkret demi menggerakkan ekonomi lokal secara terarah.

FB IMG 1753352898971

Rapat dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kendari, Amir Hasan, yang mewakili Wali Kota Kendari. Dalam arahannya, Amir tidak berbicara normatif. Ia langsung menukik pada esensi: ekonomi tidak akan tumbuh dengan niat baik saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, kecepatan belanja, dan keberanian mengeksekusi program secara disiplin.

“Setiap kegiatan harus berdampak langsung. Bukan hanya tercatat, tapi terasa. Masyarakat harus merasakan denyut pembangunan itu nyata,” tegas Amir.

Sasaran yang ditetapkan bukan main-main. Pemkot membidik pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, sesuai amanat Perpres No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025–2029. Angka ini menjadi kompas pembangunan, namun dengan pendekatan yang lebih membumi: program harus menyentuh dapur rakyat.

FB IMG 1753352892580

Dalam rapat tersebut, Kepala Bappeda Kota Kendari, Muhammad Saiful, memaparkan sembilan langkah strategis sebagai fondasi percepatan. Mulai dari percepatan realisasi APBD dan investasi (PMA/PMDN), akselerasi infrastruktur strategis, hingga pengendalian harga bahan pokok yang kerap menjadi indikator kesejahteraan paling kasat mata.

Tak berhenti di sana, Pemkot juga menyentuh isu krusial lainnya seperti pencegahan ekspor-impor ilegal dan perluasan kesempatan kerja. Khusus sektor UMKM, akan diterapkan kebijakan yang lebih progresif: perizinan disederhanakan, pembiayaan diperluas, dan pelaku usaha digerakkan ke ranah digital.

FB IMG 1753352909668

Yang menarik, Pemkot menekankan seluruh program harus berbasis data, bukan intuisi. Evaluasi dilakukan berkala, bukan musiman. Dengan pola ini, setiap rupiah anggaran tidak hanya dibelanjakan, tetapi diukur dampaknya.

Ekonomi yang tumbuh bukan lagi semata-mata statistik dalam laporan tahunan, melainkan wajah nyata dari pasar yang hidup, UMKM yang berkembang, infrastruktur yang terhubung, dan harga yang stabil di pasar tradisional.

Kendari tidak sedang membangun mimpi, tetapi sedang merancang kerja nyata. Sebab pertumbuhan bukan perkara angka, melainkan keberanian untuk mengubah sistem kerja dari tumpukan berkas menjadi barisan solusi( Red)