KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah banyak kepala daerah sibuk rapat dari pagi sampai sore, Wali Kota Kendari dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM memilih turun melihat langsung tempat orang bekerja. Selasa (21/4/2026), ia didampingi Sekretaris Daerah Amir Hasan melakukan kunjungan ke Workshop Mebel Polres Kendari dan dilanjutkan ke pusat promosi produk lokal milik Disnakerperin.

Agenda ini terlihat sederhana, tetapi pesannya kuat: ekonomi daerah tidak tumbuh dari pidato, melainkan dari tangan-tangan yang memproduksi barang.

Di Workshop Mebel Polres Kendari, Siska meninjau proses pembuatan berbagai produk furnitur yang dikerjakan anggota serta binaan Polres. Mulai dari meja, kursi, hingga produk kayu bernilai jual.

Ia memberi apresiasi atas kualitas hasil kerja yang dinilai layak bersaing dan berpotensi menjadi produk unggulan.

Dalam bahasa pasar, kalau kualitas bagus tapi tak dipromosikan, barang hanya jadi pajangan gudang.

Karena itu, Wali Kota menilai workshop seperti ini bukan hanya tempat produksi, tetapi ruang pemberdayaan. Ada keterampilan yang tumbuh, ada lapangan kerja yang terbuka, dan ada peluang ekonomi baru yang bisa bergerak.

Setelah itu, rombongan bergerak ke Pusat Promosi Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Kendari. Di lokasi tersebut dipamerkan berbagai produk hasil industri kecil dan menengah (IKM), mulai dari kerajinan tangan hingga produk olahan lokal.

Siska menegaskan bahwa produk lokal harus diberi panggung lebih luas. Menurutnya, persaingan hari ini bukan lagi antarwarung, tetapi antarbranding.

Kalau kemasan bagus, mutu terjaga, dan promosi jalan, produk daerah bisa menembus pasar luar.

Sekda Kendari Amir Hasan menambahkan pemerintah daerah akan terus mendorong pembinaan, pelatihan, hingga fasilitasi pemasaran bagi pelaku usaha kecil menengah.

Langkah ini menunjukkan bahwa Kendari sedang mencoba membangun ekonomi dari bawah: memperkuat UMKM, menghidupkan industri kreatif, dan memberi ruang bagi karya lokal.

Sebab kota yang kuat bukan hanya yang gedungnya tinggi, tetapi yang warganya produktif.

Dan Siska tampaknya paham, kadang masa depan daerah justru sedang dibuat diam-diam—di bengkel kayu, ruang pamer kecil, dan tangan pengrajin yang terus bekerja*