KENDARI, Kongkritpost.com- Aroma persaingan menuju kursi Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia mulai terasa panas di Sulawesi Tenggara. Dua kandidat kuat, Ade Jona Prasetyo dan Afifuddin Suhaeli Kalla, turun langsung ke Kendari untuk berburu dukungan menjelang Musyawarah Nasional HIPMI yang dijadwalkan berlangsung di Lampung pada 10 Juni 2026 mendatang.
Kedatangan dua figur muda tersebut pada Rabu, 13 Mei 2026, bukan sekadar menghadiri Forum Bisnis Daerah yang digelar Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sulawesi Tenggara. Di balik agenda resmi itu, terselip manuver politik organisasi yang mulai terbuka dibaca para kader HIPMI di daerah.
Kendari mendadak menjadi titik penting dalam peta perebutan suara. Sulawesi Tenggara diketahui memiliki lima hak suara strategis yang diperebutkan para kandidat menuju kursi nomor satu organisasi pengusaha muda terbesar di Indonesia tersebut.
Atmosfer persaingan bahkan terasa sejak keduanya tiba di Bandara Halu Oleo. Kehadiran mereka disambut meriah oleh pengurus dan kader HIPMI Sultra. Baliho hingga spanduk dukungan terpampang di sejumlah ruas jalan utama Kota Kendari, memperlihatkan bagaimana pertarungan pengaruh mulai dimainkan jauh sebelum Munas digelar.
Ade Jona Prasetyo disebut berada di atas angin. Kandidat bernomor urut dua itu telah mengantongi rekomendasi resmi dari Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sulawesi Tenggara. Dukungan tersebut menjadi modal politik penting dalam pertarungan internal HIPMI yang selama ini dikenal sangat dinamis.
Sementara Afifuddin Suhaeli Kalla tidak tinggal diam. Keponakan pengusaha nasional sekaligus tokoh senior Indonesia itu tetap agresif membangun komunikasi dengan para pemilik suara di Sultra. Kedekatan emosional dan faktor kedaerahan disebut menjadi senjata utama untuk merebut simpati kader di wilayah timur Indonesia.
Ketua Panitia Forum Bisnis Daerah HIPMI Sultra, Ridho Rosadi, mengakui kedatangan dua kandidat tersebut memang memiliki makna lebih dari sekadar forum diskusi bisnis.
“Mereka hadir sebagai pembicara, tetapi tentu juga ingin membangun komunikasi dan menarik dukungan pemilik suara di Sultra,” ujarnya.
Forum bisnis yang awalnya diproyeksikan membahas penguatan investasi dan hilirisasi ekonomi daerah pun berubah menjadi panggung adu pengaruh dua kandidat utama. Isu hilirisasi sumber daya alam Sultra, investasi pertambangan, hingga peluang ekonomi kawasan timur menjadi materi yang dibawa untuk menarik perhatian kader HIPMI daerah.
Persaingan menuju kursi Ketua Umum BPP HIPMI tahun ini memang diprediksi berlangsung ketat. Selain Ade Jona Prasetyo dan Afifuddin Suhaeli Kalla, dua nama lain juga ikut bertarung yakni Reynaldo Bryan dan Anthony Leong.
Namun, manuver langsung ke daerah menunjukkan pertarungan sesungguhnya kini tidak lagi hanya berlangsung di pusat, melainkan sudah bergerak ke kantong-kantong suara daerah yang menjadi penentu kemenangan di Munas nanti*






