KENDARI, Kongkritpost.com-Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari jalan yang terbangun, ekonomi yang tumbuh atau infrastruktur yang bertambah.
Ada pembangunan lain yang dinilai jauh lebih mendasar: membangun manusia yang berkarakter dan memiliki nilai spiritual.
Pesan itu disampaikan Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka, saat menghadiri tausiyah dan silaturahmi dalam rangka mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus memperkuat Gerakan Sultra Religius di Kantor Gubernur Sultra, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Dr. KH. Das’ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D., sebagai pengisi tausiyah.
Jajaran Pemerintah Provinsi Sultra serta insan pers turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Andi Sumangerukka mengajak seluruh masyarakat memaknai kemerdekaan bukan sekadar sebagai sebuah peristiwa sejarah.
Kemerdekaan, menurutnya, merupakan anugerah Allah SWT yang diperoleh melalui perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan.
Karena itu, kemerdekaan harus diisi dengan persatuan, kepedulian dan pengabdian.
“Sudah sepatutnya kita selalu bersyukur dan menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui upaya menjaga persatuan, menumbuhkan kepedulian, dan memberikan pengabdian terbaik dalam membangun bangsa dan daerah kita,” ujar Andi Sumangerukka.
Gubernur kemudian menyinggung arah pembangunan Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi memang penting. Namun, keduanya tidak akan cukup jika tidak dibarengi pembangunan sumber daya manusia.
Manusia Sultra harus dibentuk menjadi manusia yang unggul, berkarakter, berakhlak dan memiliki kecintaan terhadap daerah serta bangsa.
Di titik inilah Gerakan Sultra Religius ditempatkan.
Andi Sumangerukka menegaskan gerakan tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan atau program seremonial pemerintah.
“Gerakan Sultra Religius bukan sekadar pernyataan, tetapi harus menjadi gerakan moral dan gerakan sosial yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, nilai-nilai religius harus terlihat dalam perilaku masyarakat, termasuk dalam cara menjaga hubungan sosial, bekerja, melayani sesama dan menjalankan tanggung jawab.
Pemerintah pun tidak bisa bekerja sendirian.
Dukungan masyarakat, ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat diperlukan untuk menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat pembangunan daerah.
Terlebih Sulawesi Tenggara merupakan daerah yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya dan tradisi.
Keberagaman tersebut, kata Gubernur, tidak boleh menjadi sumber perpecahan.
“Berbagai perbedaan yang ada bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi perbedaan harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan saling menguatkan,” katanya.
Semangat tersebut kemudian dirangkum dalam tema kegiatan, “Merajut Jiwa Ukhuwah, Mengukuhkan Nasionalisme Menuju Sultra Maju, Aman, Sejahtera dan Religius.”
Sementara itu, KH. Das’ad Latif dalam tausiyahnya mengajak masyarakat memulai kehidupan religius dari diri sendiri.
Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat jangan hanya dipandang sebagai kewajiban.
Pengabdian juga harus diniatkan sebagai ibadah dan bentuk upaya mendapatkan ridha Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa seluruh aktivitas manusia pada akhirnya harus memiliki orientasi kepada Allah.
Pesan tersebut salah satunya disampaikan melalui penggalan ayat Al-Qur’an, “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin.”
Ayat tersebut mengandung pesan bahwa ibadah, pengabdian, kehidupan dan kematian seorang manusia hendaknya dipersembahkan kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Pertemuan tersebut akhirnya tidak hanya menjadi agenda syukuran kemerdekaan.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kembali pesan bahwa pembangunan Sultra harus berjalan dalam dua arah sekaligus.
Membangun daerah secara fisik, tetapi pada saat yang sama membangun manusia secara mental dan spiritual.
Dengan persatuan, kepedulian dan nilai keagamaan yang semakin kuat, Pemerintah Provinsi Sultra berharap cita-cita mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera dan religius dapat diwujudkan bersama.














