KENDARI, Kongkritpost.com- Ambisi membangun kota yang bersih dan tertata tidak cukup hanya mengandalkan sapu petugas kebersihan. Kesadaran warga, kedisiplinan aparatur, hingga tata kelola sampah yang berkelanjutan menjadi pekerjaan bersama yang harus berjalan beriringan.

Pesan itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi dan Arahan Program Adipura Kota Kendari Tahun 2026 di Ruang Samaturu, Balai Kota Kendari, Jumat (6/11/2026).

Screenshot 20261106 143640 WhatsApp

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengonsolidasikan seluruh jajaran pemerintah daerah agar memiliki langkah dan arah yang sama dalam membenahi kualitas lingkungan perkotaan.

Hadir dalam kegiatan itu sejumlah pejabat lingkup Pemkot Kendari, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), camat, lurah, pengelola fasilitas publik, serta tokoh masyarakat dan kader lingkungan.

Bagi Pemkot Kendari, persiapan Adipura tidak boleh berhenti pada kegiatan bersih-bersih menjelang penilaian. Lebih dari itu, program tersebut harus menjadi momentum membangun sistem pengelolaan lingkungan yang konsisten dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Siska menegaskan, Adipura bukan semata-mata urusan mengejar penghargaan atau membawa pulang piala. Esensi program itu justru terletak pada perubahan perilaku masyarakat dan kemampuan pemerintah membangun lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, serta berkelanjutan.

Karena itu, persoalan sampah tidak bisa hanya diserahkan kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) maupun petugas kebersihan. Pemerintah, menurut arah kebijakan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak dari lingkungan terkecil.

Pemilahan sampah dari rumah tangga, penguatan bank sampah di tingkat RT dan RW, serta pembiasaan perilaku ramah lingkungan di sekolah dan perkantoran menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Sebab, persoalan kebersihan kota tidak selalu bermula di tempat pembuangan akhir. Justru, banyak persoalan sampah dapat ditekan apabila pengelolaannya dilakukan sejak dari sumbernya.

Selain membangun kesadaran masyarakat, Pemkot Kendari juga mulai menyelaraskan langkah antarorganisasi perangkat daerah (OPD) untuk menghadapi tahapan penilaian Adipura 2026.

Sejumlah lokasi menjadi perhatian, mulai dari pasar tradisional, kawasan permukiman, taman kota, fasilitas pelayanan kesehatan, ruang publik hingga tempat pemrosesan akhir (TPA).

Penataan kawasan, kebersihan fasilitas umum, pengendalian sampah, serta pemeliharaan ruang terbuka hijau menjadi aspek yang membutuhkan pengawasan dan penanganan secara berkesinambungan.

Melalui sosialisasi tersebut, Pemkot Kendari ingin memastikan setiap instansi memahami tanggung jawabnya. Koordinasi lintas sektor juga diperlukan agar pembenahan lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pada akhirnya, keberhasilan Adipura tidak semestinya hanya diukur dari hasil penilaian tim pusat. Ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan warga adalah lingkungan yang semakin bersih, ruang publik yang nyaman, sampah yang tertangani, serta kota yang semakin sehat untuk ditinggali.

Kendari kini memiliki pekerjaan bersama: menjadikan semangat Adipura bukan sekadar agenda tahunan, melainkan kebiasaan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat*