KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah keterbatasan anggaran, Sulawesi Tenggara memilih bergerak lebih dulu daripada menunggu. Langkah itu diwujudkan melalui penyelenggaraan Familiarization Trip (Famtrip) yang digagas secara mandiri oleh berbagai elemen pariwisata daerah sebagai upaya memperkenalkan potensi destinasi daratan Sultra kepada publik yang lebih luas.

Berbeda dengan banyak agenda promosi wisata yang bergantung pada dukungan anggaran pemerintah, Famtrip Sultra lahir dari semangat kolaborasi dan swadaya. Para peserta, komunitas, pelaku wisata, hingga sejumlah organisasi bergerak bersama membangun sebuah gerakan promosi yang berorientasi pada dampak jangka panjang.

Langkah tersebut ternyata tidak luput dari perhatian pemerintah pusat. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, mengungkapkan bahwa laporan pelaksanaan Famtrip mendapat respons positif dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Menurutnya, Deputi Bidang Pemasaran serta jajaran Asisten Deputi Kemenparekraf memberikan apresiasi terhadap inisiatif yang lahir dari daerah tersebut. Dukungan itu membuka peluang agar Famtrip Sultra dapat berkembang menjadi agenda pariwisata yang memperoleh dukungan program dan alokasi anggaran pada masa mendatang.

“Ini menjadi modal awal yang sangat penting. Ketika daerah mampu menunjukkan keseriusan dan hasil nyata, peluang mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat tentu semakin besar,” kata Ridwan Badallah, Rabu (5/8/2026).

Namun lebih dari sekadar mengejar dukungan anggaran, Famtrip Sultra membawa visi yang lebih strategis. Selama ini, nama Sulawesi Tenggara identik dengan Wakatobi yang telah dikenal dunia sebagai destinasi wisata bahari dan surga penyelaman kelas internasional.

Di balik popularitas Wakatobi, masih tersimpan banyak potensi wisata daratan yang belum mendapatkan panggung yang sama. Melalui Famtrip, pemerintah daerah berupaya memperkenalkan kawasan-kawasan tersebut sebagai destinasi penyangga yang mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan di Sulawesi Tenggara.

Ridwan menilai wisatawan modern tidak lagi hanya mencari satu pengalaman perjalanan. Mereka menginginkan variasi atraksi, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, petualangan, hingga pengalaman hidup bersama masyarakat lokal.

“Wakatobi tidak bisa berdiri sendiri. Wisatawan membutuhkan pilihan destinasi lain selain wisata bahari. Karena itu, destinasi daratan harus hadir untuk melengkapi pengalaman mereka selama berada di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Konsep itulah yang kemudian menjadi dasar lahirnya Famtrip Sultra. Tidak hanya mempromosikan destinasi, tetapi juga membangun ekosistem wisata yang saling terhubung antara wilayah pesisir, kepulauan, dan daratan.

Menariknya, kegiatan ini dirancang agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada publikasi dan promosi semata. Panitia sengaja menerapkan konsep wisata berbasis transaksi langsung dengan masyarakat. Selama perjalanan berlangsung, peserta tidak disediakan katering maupun paket konsumsi khusus.

Sebaliknya, mereka didorong membeli makanan, minuman, cendera mata, dan berbagai kebutuhan lainnya langsung dari pedagang lokal serta pelaku UMKM yang berada di sekitar lokasi kegiatan.

Strategi sederhana tersebut terbukti menciptakan perputaran ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Setiap kunjungan peserta menjadi peluang pendapatan bagi warung makan, pedagang kecil, pelaku ekonomi kreatif, hingga pengelola destinasi wisata.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep multiplier effect dalam sektor pariwisata, di mana setiap aktivitas wisata tidak hanya menghasilkan promosi, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Di balik pelaksanaannya, Famtrip Sultra juga menunjukkan kekuatan kolaborasi lintas sektor. Berbagai elemen ikut terlibat, mulai dari TP-PKK, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Astindo, Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sultra, Jelajah Sultra, pemerintah kabupaten dan kota, hingga komunitas kreatif serta komunitas film dari berbagai daerah.

Kolaborasi itu menjadi bukti bahwa pengembangan pariwisata tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan komunitas, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan generasi muda untuk menciptakan gerakan promosi yang berkelanjutan.

Meski jumlah peserta pada pelaksanaan perdana masih dibatasi karena mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan sanitasi destinasi, Famtrip Sultra dipandang sebagai fondasi awal yang menjanjikan.

Jika konsisten dikembangkan, kegiatan ini berpotensi tumbuh menjadi agenda promosi wisata berskala nasional yang tidak hanya memperkenalkan keindahan alam Sulawesi Tenggara, tetapi juga mengangkat ekonomi masyarakat dan memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat pertumbuhan pariwisata di kawasan timur Indonesia*