KENDARI, Kongkritpost.com- Upaya memperkenalkan wajah lain pariwisata Sulawesi Tenggara terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif. Salah satunya melalui kegiatan Familiarization Trip (Famtrip) yang digelar komunitas Pesona Wisata Sulawesi Tenggara (Sultra), dengan mengajak para relawan menjelajahi sejumlah destinasi potensial yang selama ini belum banyak terekspos secara luas.

Selama tiga hari dua malam, rombongan menyusuri berbagai kawasan wisata alam mulai dari Pajongang, Watubangga, Sani-Sani hingga sejumlah titik strategis di Kabupaten Kolaka, Perjalanan ini tidak sekadar menjadi agenda rekreasi, melainkan bagian dari upaya pemetaan destinasi, promosi digital, serta penguatan citra pariwisata daerah berbasis komunitas.

Keberangkatan peserta nantinya dilepas langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara di halaman Kantor Gubernur Sultra. Pengibaran bendera start menjadi penanda dimulainya ekspedisi wisata yang membawa misi memperkenalkan kekayaan lanskap Sultra kepada pasar wisata yang lebih luas.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan strategi promosi yang mengedepankan pengalaman langsung di lapangan. Menurutnya, wisatawan modern kini lebih tertarik pada pengalaman autentik yang dibagikan melalui media sosial, komunitas, maupun platform digital.

“Famtrip ini bukan sekadar perjalanan wisata. Ini adalah model promosi yang efektif untuk memperkenalkan keindahan alam Sultra sekaligus mempersiapkan agenda besar Festival Pajongang dan Paralayang 2027,” kata Ridwan Badallah, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, kawasan Pajongang dan sejumlah destinasi yang dilalui memiliki karakter lanskap yang unik. Perpaduan savana luas, perbukitan hijau, panorama pegunungan, serta bentang alam terbuka dinilai memiliki daya tarik kuat untuk pengembangan wisata petualangan dan olahraga udara.

Menariknya, seluruh kegiatan dijalankan dengan semangat gotong royong. Para peserta mengikuti perjalanan secara mandiri dan swadaya, mulai dari penyediaan kendaraan, logistik perjalanan, hingga perlengkapan berkemah. Semangat voluntourism atau wisata berbasis kerelawanan tersebut menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Famtrip kali ini.

Selain menikmati panorama alam, peserta juga berkesempatan menjajal olahraga paralayang yang mulai dikembangkan sebagai salah satu ikon wisata minat khusus di Sulawesi Tenggara. Aktivitas tersebut dipadukan dengan pertunjukan musik lokal dan berbagai kegiatan kebersamaan yang memperkuat jejaring antar komunitas pariwisata.

Di balik aktivitas eksplorasi destinasi, Famtrip ini juga membawa misi ekonomi yang tidak kalah penting. Penyelenggara melibatkan pelaku usaha lokal di berbagai titik persinggahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi peserta selama perjalanan berlangsung.

Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi UMKM, pedagang kuliner, hingga penyedia jasa lokal untuk merasakan manfaat langsung dari aktivitas pariwisata. Konsep multiplier effect yang diusung menunjukkan bahwa sektor wisata bukan hanya soal kunjungan, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran wisatawan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat akar rumput.

Koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat di wilayah Bombana, Kolaka, serta Kolaka Timur turut menjadi bagian dari strategi pengembangan destinasi berbasis komunitas. Langkah ini sekaligus menjadi upaya membangun kesiapan daerah dalam menyambut agenda wisata berskala lebih besar pada masa mendatang.

Famtrip Pesona Wisata Sultra memperlihatkan bahwa promosi pariwisata tidak harus selalu bergantung pada event besar dan anggaran tinggi. Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat lokal, potensi wisata yang selama ini tersembunyi dapat diperkenalkan secara lebih luas sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata.

Di tengah meningkatnya tren wisata berbasis alam, petualangan, dan pengalaman autentik, Sulawesi Tenggara memiliki peluang besar untuk tampil sebagai destinasi unggulan di kawasan timur Indonesia. Famtrip ini menjadi langkah awal untuk mengubah potensi menjadi kekuatan, sekaligus memperkenalkan pesona bumi Anoa kepada dunia*