KONSEL, Kongkritpost.com- Direktur Utama PT Tambang Indonesia Sejahtera (PT TIS), La Ode Kais, melontarkan janji yang tak biasa di hadapan warga Desa Bangun Jaya, Kabupaten Konawe Selatan.
Janji itu sederhana—tapi besar nilainya.
Dividen dari pengapalan perdana perusahaan, tidak akan ia nikmati. Semua akan dibagikan kepada masyarakat lingkar tambang.
Pernyataan itu disampaikan langsung saat bertatap muka dengan warga. Nada suaranya tegas, sekaligus mengingatkan pada masa awal perusahaan hadir.
“Lima tahun lalu, saat sosialisasi pertama, apa yang kita harapkan bersama mulai terjawab hari ini. Ini berkat doa bapak ibu semua,” kata La Ode Kais.
Ia menyebut, pada 26 Maret mendatang, PT TIS akan memulai uji coba jetty sekaligus pengapalan perdana.
Dari satu tongkang pertama itulah, komitmen itu diuji Kata Kais Senin (16/3/2026)
“Saya sebagai pemilik saham, satu sen pun tidak akan saya ambil. Semua untuk masyarakat,” tegasnya.
La Ode Kais mengakui, dirinya memiliki saham bersama keluarga. Namun khusus jatah pribadinya, ia memilih mengalihkannya untuk warga.
Bahkan, jika hasil pertama belum mencukupi, ia siap melanjutkan pada pengapalan berikutnya.
“Kalau belum cukup, penjualan kedua akan saya bagikan lagi,” ujarnya.
Ia pun meminta warga untuk mengingatkan janjinya itu jika suatu saat terlupa.
Bagi Kais, capaian perusahaan hingga tahap pengapalan bukan semata hasil kerja internal. Ada peran doa dan dukungan masyarakat yang terus mengawal sejak awal.
“Tanpa masyarakat, ini tidak mungkin sampai di titik ini,” katanya.
Di sisi lain, sang istri yang turut hadir menekankan satu hal: perusahaan tidak ingin sekadar dikenal legal, tapi juga berintegritas.
Ia mengingat kembali momen sosialisasi awal sekitar lima tahun delapan bulan lalu di Desa Bangun Jaya.
Saat itu, kata dia, pemerintah telah memastikan status legal PT TIS sebagai perusahaan tambang berizin.
Namun, bagi mereka, itu bukan fokus utama.
“Kami tidak ingin terus bicara legalitas. Pemerintah sudah menjelaskan itu. Yang kami tunjukan adalah integritas,” ujarnya.
Ia memastikan, aktivitas pertambangan dilakukan sesuai aturan, tanpa menyentuh kawasan konservasi dan tanpa merusak lingkungan.
Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa kehadiran perusahaan tidak mengganggu kehidupan masyarakat.
Nelayan tetap melaut. Petani tetap bertani. Bahkan musim panen tetap berjalan seperti biasa.
“Artinya kehidupan masyarakat tidak berubah, tetap berjalan,” katanya.
Meski diakui, dalam lima tahun terakhir dampak besar belum sepenuhnya dirasakan, pihak perusahaan mengklaim terus berupaya memberi manfaat secara bertahap.
“Sedikit demi sedikit, kami akan terus hadir membawa dampak positif,” tutup Kais.*




