KENDARI, Kongkritpost.com- Pemerintah Kota Kendari memilih mendekatkan pemerintah dengan masyarakat, bukan sekadar menunggu aspirasi datang melalui meja birokrasi.

Melalui program “Wali Kota Menyapa dan Forkopimda Menyapa”, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran bersama jajaran Forkopimda, DPRD dan pimpinan OPD turun langsung menemui masyarakat Kecamatan Wuawua dan Kecamatan Kadia, Senin (24/8/2026).

Pertemuan yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan pangan pemerintah itu menjadi agenda kelima sekaligus penutup rangkaian roadshow di lima daerah pemilihan (dapil) Kota Kendari.

Siska mengatakan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat sengaja dirancang sebagai ruang untuk mendengar langsung persoalan yang terjadi di tingkat lingkungan.

Bukan hanya mendengar.

Tetapi mempertemukan warga dengan pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.

“Tujuan kami datang ke sini adalah mendengarkan langsung apa yang menjadi permasalahan dan harapan masyarakat,” ujar Siska.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan laporan administratif untuk mengetahui kondisi masyarakat.

Ada persoalan-persoalan di lapangan yang hanya bisa dipahami ketika pemimpin dan perangkatnya datang langsung, melihat kondisi lingkungan, serta berdialog dengan warga.

Karena itu, forum tersebut menghadirkan unsur yang cukup lengkap. Mulai dari Forkopimda, DPRD, kepala OPD, camat, lurah, RT/RW, LPM, Karang Taruna hingga tokoh masyarakat.

Siska menilai keberadaan mereka penting agar aspirasi yang muncul tidak berhenti menjadi catatan pertemuan.

“Semua pengambil kebijakan hadir. Jadi ketika masyarakat menyampaikan aspirasi, bisa langsung diketahui siapa yang harus menindaklanjutinya,” katanya.

Ia juga memberikan ruang besar kepada RT dan RW untuk aktif menyampaikan persoalan warganya.

Menurut Siska, perangkat lingkungan merupakan mata dan telinga pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat setiap hari.

Selain membuka ruang dialog, Pemkot Kendari menyerahkan bantuan pangan pemerintah kepada masyarakat penerima manfaat.

Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga perlindungan sosial dan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan.

Namun, agenda tersebut tidak hanya berbicara tentang bantuan.

Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian.

Pemkot Kendari memperkenalkan program Lembaga Pengolah Sampah (LPS) sebagai salah satu pendekatan baru dalam mengatasi persoalan persampahan.

Melalui LPS, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pihak yang membuang dan menunggu sampah diangkut pemerintah.

Warga didorong ikut mengambil peran sejak dari rumah dan lingkungan masing-masing.

Siska menyadari persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendirian.

Armada dan petugas memang dibutuhkan. Tetapi perubahan perilaku masyarakat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pengelolaan sampah.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah dari rumah juga harus ditingkatkan,” tegasnya.

Bagi Pemkot Kendari, rangkaian “Wali Kota Menyapa” menjadi salah satu cara untuk memastikan pembangunan tidak berjalan jauh dari suara masyarakat.

Lima dapil telah disambangi.

Keluhan dan harapan warga telah didengar.

Kini tantangannya adalah memastikan aspirasi tersebut diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata.

Sebab bagi Siska, pemimpin bukan hanya hadir ketika meresmikan sebuah program.

Pemimpin juga harus hadir ketika masyarakat membutuhkan tempat untuk menyampaikan persoalan*