KOLAKA, Kongkritpost.com-Puncak Sani-Sani di Desa Sani-Sani, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata olahraga unggulan di Sulawesi Tenggara.

Keindahan kawasan dari ketinggian, karakter perbukitan, serta kondisi alam yang mendukung aktivitas paralayang membuat destinasi ini semakin mendapat perhatian.

Namun, potensi tersebut masih membutuhkan pembenahan fasilitas agar mampu berkembang secara optimal.

Hal itu menjadi perhatian Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka bersama Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara setelah meninjau langsung kawasan Puncak Sani-Sani dalam rangkaian Famtrip Overland Sultra.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka, Andi Pangoriseng, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut memberikan gambaran langsung mengenai potensi sekaligus sejumlah kebutuhan yang masih harus dibenahi.

Famtrip yang digelar Dinas Pariwisata Sultra itu menyusuri sejumlah destinasi di Sulawesi Tenggara, mulai dari Kendari, kawasan Pajongang di Bombana, Pantai Kalomang hingga rumah adat di Kolaka, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Puncak Sani-Sani.

Rangkaian perjalanan tersebut turut diikuti Ketua TP PKK Sultra Arinta Andi Sumangerukka dan Kepala Dinas Pariwisata Sultra M. Ridwan Badallah.

Menurut Andi Pangoriseng, Puncak Sani-Sani memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis olahraga kedirgantaraan.

“Puncak Sani-Sani ini memiliki potensi olahraga kedirgantaraan yang luar biasa. Antusiasme masyarakat juga sangat baik dan ini menjadi modal penting untuk pengembangannya,” ujar Andi Pangoriseng, Minggu (9/8/2026).

Namun, ia menilai potensi tersebut perlu ditopang dengan fasilitas yang memadai.

Pengembangan wisata paralayang, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam. Aspek keselamatan, aksesibilitas dan kenyamanan wisatawan juga harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan destinasi.

Karena itu, sejumlah kebutuhan pembenahan mulai dipetakan.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah area take-off dan landing. Dinas Pariwisata mendorong peningkatan kualitas permukaan area tersebut, termasuk rencana pemasangan paving block.

Bagian tepi tebing juga dinilai membutuhkan penguatan berupa turap atau struktur penahan tanah.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi erosi maupun potensi longsor, terutama saat intensitas hujan meningkat.

Pembenahan juga menyasar akses jalan menuju kawasan puncak. Infrastruktur tersebut perlu ditingkatkan agar wisatawan lebih mudah mencapai lokasi dan perjalanan menuju destinasi tidak menjadi hambatan.

Selain infrastruktur utama, fasilitas penunjang wisata juga menjadi perhatian.

Rencana pengembangan mencakup penyediaan kantin, tempat duduk, area bersantai hingga ruang istirahat bagi pengunjung dan keluarga.

Dengan fasilitas tersebut, wisatawan nantinya tidak hanya datang menyaksikan aktivitas paralayang, tetapi juga dapat menikmati Puncak Sani-Sani sebagai kawasan rekreasi.

Dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar juga menjadi salah satu tujuan pengembangan destinasi.

Meningkatnya kunjungan wisatawan berpotensi membuka ruang usaha baru bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, jasa transportasi, hingga usaha masyarakat lainnya.

Karena itu, pembenahan Puncak Sani-Sani tidak diarahkan hanya pada pembangunan fisik.

Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka dan Dinas Pariwisata Sultra mendorong pendekatan kolaboratif melalui konsep pentahelix dengan melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, masyarakat, media dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi dinilai penting agar pengembangan destinasi berjalan berkelanjutan, mulai dari penyediaan fasilitas, pengelolaan kawasan, aspek keselamatan hingga promosi.

Rencana peningkatan fasilitas tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan lebih lanjut.

Kepala Dinas Pariwisata Sultra bersama Danlanud direncanakan menghadap Gubernur Sultra Andi Sumangerukka untuk menyampaikan usulan penyempurnaan fasilitas paralayang Puncak Sani-Sani.

Usulan tersebut diharapkan mendapat dukungan sehingga potensi Puncak Sani-Sani dapat dikembangkan secara lebih serius.

Apalagi, kawasan tersebut telah menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian dalam rangkaian Famtrip Overland Sultra.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa potensi wisata Sulawesi Tenggara tidak hanya berada pada sektor bahari.

Sultra juga memiliki peluang mengembangkan wisata berbasis olahraga, petualangan dan kedirgantaraan.

Andi Pangoriseng berharap pembenahan fasilitas dapat segera ditindaklanjuti secara bertahap.

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Puncak Sani-Sani diharapkan mampu tumbuh menjadi destinasi wisata paralayang yang aman, nyaman dan semakin dikenal, bukan hanya di Sulawesi Tenggara, tetapi juga di tingkat nasional.

Potensinya sudah tersedia. Tantangannya kini adalah memastikan fasilitas, keselamatan dan aksesibilitas mampu mengikuti daya tarik alam yang dimiliki Puncak Sani-Sani*