KOLAKA, Kongkritpost.com- Ada cara lain mempromosikan pariwisata selain menunggu anggaran pemerintah.

Datang langsung ke lokasi, Melihat destinasi, dan Mengajak media. Mengumpulkan komunitas.

Lalu menceritakannya kepada publik.

Cara itu sedang dicoba dalam Famtrip Overland Sulawesi Tenggara yang berlangsung 7–9 Agustus 2026.

Screenshot 20260809 093159 Gallery

Rombongan bergerak melintasi Kabupaten Bombana, Kolaka dan Kolaka Timur. Mereka tidak datang sekadar berwisata, tetapi membawa misi memperkenalkan potensi destinasi yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.

Yang membuat kegiatan ini berbeda, seluruh rangkaian Famtrip Overland dilaksanakan tanpa menggunakan anggaran APBD maupun APBN.

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Dr. M. Ridwan Badallah, menyebut kegiatan tersebut lahir dari semangat kolaborasi.

“Ini adalah kegiatan yang kita laksanakan tanpa menggunakan anggaran APBD maupun APBN. Semua bergerak dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap pariwisata Sulawesi Tenggara,” kata Ridwan saat Sharing Session di Pantai Shaka, Desa Sanisani, Kecamatan Samaturu, Kabupaten Kolaka, Sabtu (8/8/2026).

Bagi Ridwan, promosi pariwisata tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah.

Destinasi tidak akan dikenal luas apabila hanya dipromosikan dari balik meja kantor.

Harus ada orang yang datang, melihat, mengalami, kemudian menceritakannya.

Karena itu, Famtrip Overland melibatkan banyak unsur.

Pemerintah daerah ikut bergerak. Komunitas ikut turun. Pelaku industri pariwisata ikut terlibat. Media ikut meliput. Pegiat olahraga wisata juga mengambil bagian.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan komunitas, pelaku usaha, media, dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama membangun pariwisata,” ujar Ridwan.

Konsep tersebut sekaligus menjadi praktik pentahelix pariwisata.

Dalam perjalanan, peserta mengunjungi sejumlah destinasi dengan karakter berbeda.

Padang Pajongan di Bombana menawarkan lanskap alam yang menjadi salah satu potensi wisata daerah.

Perjalanan kemudian bergerak menuju Kolaka dan menyambangi Pantai Kalomang.

Rangkaian perjalanan berlanjut ke Pantai Shaka di Sanisani.

Di Pantai Shaka, peserta tidak hanya menikmati panorama pesisir. Mereka juga mengikuti Sharing Session yang membahas masa depan promosi dan pengembangan pariwisata Sultra.

Diskusi menyentuh berbagai persoalan, mulai dari kesiapan destinasi, pola promosi, peran komunitas, penguatan industri perjalanan hingga peluang pengembangan kerja sama dengan pemerintah pusat.

Menurut Ridwan, keberadaan media dalam perjalanan ini mempunyai nilai strategis.

Jurnalis melihat langsung destinasi yang dikunjungi. Bukan sekadar menerima bahan publikasi.

“Media ikut turun bersama kita, melihat langsung destinasi, merasakan perjalanan dan kemudian memberitakan apa yang mereka lihat. Ini menjadi bagian penting dari promosi pariwisata,” katanya.

Dengan pola seperti itu, promosi wisata diharapkan lebih organik.

Media memiliki pengalaman langsung.

Komunitas memiliki cerita.

Pelaku perjalanan mempunyai bahan untuk ditawarkan.

Sedangkan pemerintah memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi destinasi di lapangan.

Pantai Shaka juga memperlihatkan peluang lain.

Kawasan Sanisani mulai diarahkan sebagai salah satu lokasi yang memiliki potensi wisata olahraga, terutama paralayang.

Aktivitas paralayang turut menjadi bagian dari rangkaian Famtrip Overland.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka, Andi Pangoriseng, melihat potensi tersebut sebagai peluang untuk memperkaya pilihan wisata di daerahnya.

“Sanisani ini sangat potensial. Saat ini sudah siap untuk dilakukan kegiatan paralayang. Ini tentu menjadi salah satu potensi yang bisa kita kembangkan untuk menarik wisatawan,” ujarnya.

Andi juga mengapresiasi konsep Famtrip Overland karena kegiatan tersebut dapat berjalan tanpa menggunakan anggaran pemerintah.

“Ini luar biasa. Sepengetahuan kami, kegiatan seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Yang lebih membanggakan, kegiatan ini dilaksanakan tanpa menggunakan anggaran pemerintah,” katanya.

Menurut dia, promosi melalui jaringan komunitas dan media dapat membantu memperkenalkan destinasi Kolaka kepada pasar wisata yang lebih luas.

“Kita berharap dengan adanya kegiatan ini, destinasi wisata di Kolaka semakin dikenal, bukan hanya oleh wisatawan lokal tetapi juga wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya Dinas Pariwisata Sultra, pemerintah daerah Bombana, Kolaka dan Kolaka Timur, Dekranasda, TP PKK, GenPI, ASITA, Jelajah Sultra, Camper Van Indonesia 29 Sultra, Elang Tenggara Paralayang serta VES Community Anoa Chapter Sultra.

Ketua TP PKK Sultra, Arinta Anila Apsar, juga ikut dalam perjalanan tersebut.

Banyaknya kelompok yang terlibat membuat Famtrip Overland tidak berhenti sebagai kegiatan jalan-jalan.

Ada jejaring yang dibangun, Ada destinasi yang diperkenalkan, Ada konten yang diproduksi.

Ada peluang usaha yang dibuka.

Dan ada promosi yang berjalan tanpa harus menunggu anggaran negara.

Ridwan berharap model tersebut dapat dikembangkan pada masa mendatang.

Ia ingin kegiatan serupa memiliki cakupan lebih besar dan mampu menjangkau lebih banyak destinasi di Sultra.

“Harapannya kegiatan ini ke depan bisa lebih besar, lebih terorganisir dan mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Famtrip Overland tiga kabupaten dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 7–9 Agustus 2026.

Rutenya melewati sejumlah destinasi di Bombana, Kolaka dan Kolaka Timur.

Perjalanan itu pada akhirnya membawa pesan sederhana.

Promosi pariwisata tidak selalu harus dimulai dari anggaran.

Kadang, ia cukup dimulai dari kemauan untuk bergerak bersama.

Ketika pemerintah, komunitas, pelaku usaha dan media berjalan dalam satu arah, destinasi yang selama ini hanya dikenal masyarakat setempat bisa memiliki kesempatan untuk dikenal lebih jauh*