JAKARTA, Kongkritpost.com- Tidak semua kepala daerah mendapat panggung nasional di jam strategis televisi. Tapi pada momen Hari Kartini, Wali Kota Kendari dr. Hj. Siska Karina Imran, SKM tampil di layar tvOne dalam dialog bertajuk Perempuan Hebat, Senin (20/4/2026). Ini bukan sekadar tampil di acara talkshow. Ini adalah panggung citra, panggung gagasan, dan panggung promosi daerah.

Di dunia televisi, tampil live nasional itu ibarat mendapat prime time exposure. Satu kursi narasumber bisa bernilai lebih mahal dari seribu baliho.

Program yang dipandu presenter Putri Windasari dan Celia Alexandra itu menghadirkan sederet tokoh perempuan dari berbagai bidang. Nama-nama seperti Meutya Hafid, Cinta Laura, hingga sejumlah figur nasional lain ikut mengisi layar. Di tengah deretan nama besar itu, Kendari hadir lewat Siska.

Ia datang bukan membawa seremoni, melainkan pesan.

Menurut Siska, perempuan hari ini bukan lagi pelengkap pembangunan. Perempuan adalah motor perubahan, penggerak kebijakan, dan penentu arah masa depan.

“Perempuan tidak hanya mampu berkontribusi secara teknis, tetapi juga menjadi agen perubahan yang memberi inspirasi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya dalam forum tersebut.

Kalimat itu sederhana, tetapi nendang. Sebab Indonesia masih sering menempatkan perempuan sebatas simbol, padahal banyak daerah justru bergerak karena tangan dingin pemimpin perempuan.

Namun Siska tampaknya paham satu hal: tampil di televisi nasional jangan hanya bicara isu normatif. Harus ada soft campaign untuk kota yang dipimpin.

Maka momentum itu dipakai untuk mempromosikan UCLG ASPAC 2026, forum internasional yang akan digelar di Kendari. Strategi ini cerdas. Sekali naik panggung, dua pesan terkirim: perempuan berdaya dan Kendari siap mendunia.

Di era komunikasi modern, kepala daerah bukan hanya administrator. Ia juga harus jadi komunikator. Harus tahu kapan bicara APBD, kapan bicara empati, kapan bicara investasi, dan kapan menjual nama kota ke publik nasional.

Kehadiran Siska di tvOne menunjukkan bahwa Kendari mulai memahami politik citra yang elegan. Bukan gaduh. Bukan sensasi. Tapi masuk studio, bicara substansi, lalu pulang membawa perhatian publik.

Hari Kartini tahun ini pun terasa berbeda bagi Kendari. Karena di layar nasional, seorang wali kota perempuan sedang mengirim pesan bahwa kota di timur Indonesia juga punya suara besar.

Dan kadang, kemajuan daerah memang dimulai dari satu hal sederhana: berani mengambil mikrofon*