KENDARI, Kongkritpost.com- Bank Sultra tak mau sekadar menjadi tempat menyimpan dan meminjam uang.

Bank pembangunan daerah milik Sulawesi Tenggara itu kini semakin agresif memainkan peran sebagai penggerak ekonomi rakyat.

Sasarannya jelas. UMKM, pelaku usaha mikro dan kecil, hingga petani.

Buktinya terlihat dari kinerja pembiayaan hingga 31 Juli 2026.

Outstanding kredit UMKM Bank Sultra sudah menembus Rp1.039.238.169.475.

Angkanya lebih dari Rp1 triliun.

Menurut Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar bahwa Capaian tersebut menunjukkan besarnya pembiayaan yang telah disalurkan Bank Sultra ke sektor usaha masyarakat.

Bagi pelaku UMKM, akses modal bukan sekadar angka dalam laporan bank ujarnya Rabu (12/8/2026)

Modal bisa berarti tambahan stok dagangan.

Bisa untuk membeli peralatan.

Bisa membuka cabang.

Bahkan bisa menjadi modal awal untuk memperbesar usaha.

Di sinilah Bank Sultra berusaha mengambil posisi.

Bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi ikut mendorong pelaku usaha lokal agar mampu berkembang.

Dukungan itu semakin terlihat dari penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Hingga akhir Juli 2026, outstanding KUR Bank Sultra mencapai Rp352.543.439.206.

Pembiayaan tersebut menyasar pelaku usaha mikro dan kecil yang membutuhkan akses permodalan dengan skema KUR.

Target akhirnya bukan sekadar kredit tersalurkan.

Usaha masyarakat diharapkan tumbuh.

Dari usaha kecil menjadi lebih besar.

Dari bertahan hidup menjadi mampu menciptakan lapangan kerja.

Bank Sultra juga tidak melupakan sektor pertanian.

Melalui pembiayaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), bank tersebut ikut mendorong mekanisasi pertanian di Sulawesi Tenggara.

Per 31 Juli 2026, outstanding pembiayaan Alsintan mencapai Rp24.801.805.996.

Pembiayaan itu tersebar kepada 51 debitur.

Bagi petani, alat pertanian bukan sekadar mesin.

Ia bisa menentukan efisiensi waktu kerja, biaya produksi hingga produktivitas.

Karena itu, pembiayaan Alsintan diarahkan untuk membantu petani beradaptasi dengan kebutuhan pertanian modern sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

Namun Bank Sultra tampaknya sadar, memberikan pinjaman saja belum cukup.

UMKM juga perlu dibimbing.

Pelaku usaha harus memahami cara mengelola keuangan, menghitung keuntungan, memanfaatkan teknologi, membaca pasar dan memperluas pemasaran.

Karena itu, pembinaan, pelatihan, pendampingan, literasi keuangan dan literasi digital menjadi bagian penting dalam penguatan UMKM.

Sebab, kredit yang sehat bukan hanya kredit yang cair.

Kredit yang sehat adalah kredit yang mampu menghidupkan usaha dan kembali melalui kemampuan debitur mengembangkan bisnisnya.

Dari sini, peran Bank Sultra menjadi semakin strategis.

Uang yang dihimpun dari masyarakat kembali didorong masuk ke sektor produktif.

UMKM bergerak.

Petani mendapat akses pembiayaan.

Perdagangan berputar.

Dan ekonomi daerah ikut mendapatkan efeknya.

Tentu tantangan berikutnya tidak ringan.

Semakin besar pembiayaan yang disalurkan, semakin besar pula tanggung jawab memastikan kredit tepat sasaran dan tetap sehat.

Bank Sultra dituntut menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas pembiayaan.

Jika itu mampu dilakukan secara konsisten, maka ambisi menjadikan Bank Sultra sebagai mesin penggerak ekonomi Sultra bukan sekadar slogan.

Angka Rp1,03 triliun kredit UMKM, Rp352,5 miliar KUR dan hampir Rp24,8 miliar pembiayaan Alsintan sudah menjadi pijakan.

Tinggal bagaimana angka-angka tersebut benar-benar berubah menjadi cerita keberhasilan di lapangan: UMKM yang naik kelas, petani yang makin produktif, dan ekonomi masyarakat Sulawesi Tenggara yang semakin kuat*