KENDARI, Kongkritpost.com- Momen pengundian nomor urut calon Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 menghadirkan cerita tersendiri bagi Prof Dr Ruslin, S.Pd., M.Si. Akademisi yang kini menjabat Dekan Fakultas Farmasi UHO itu mendapatkan nomor urut 8, angka yang menurutnya memiliki makna lebih dari sekadar identitas dalam pemilihan.

Di tengah suasana pengundian yang berlangsung Kamis (18/6/2026), Prof Ruslin justru melihat angka tersebut sebagai simbol perjalanan panjang yang ingin ditempuh UHO ke depan.

Baginya, angka delapan identik dengan filosofi delapan penjuru mata angin yang selama ini dikenal dalam makna Halu Oleo. Filosofi itu menggambarkan keterbukaan, perluasan wawasan, dan keberanian menjangkau dunia yang lebih luas.

“Kalau kita bicara delapan penjuru mata angin, maka tidak ada batas ruang bagi UHO untuk berkembang. Kampus ini harus hadir di mana-mana melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata,” kata Prof Ruslin.

Menurutnya, sudah saatnya UHO melangkah keluar dari zona nyaman sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara. Tantangan pendidikan tinggi saat ini menuntut kampus tidak hanya unggul dalam jumlah mahasiswa, tetapi juga memiliki reputasi akademik yang kuat di tingkat internasional.

Karena itu, Prof Ruslin menilai transformasi kampus harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan kualitas riset, peningkatan publikasi ilmiah, hingga perluasan kerja sama dengan berbagai universitas luar negeri.

Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi hasil penelitian agar karya dosen dan mahasiswa tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah semata, tetapi mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi yang besar adalah kampus yang hasil risetnya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Itu yang harus terus kita dorong,” ujarnya.

Sebagai akademisi yang lahir dan besar di lingkungan UHO, Prof Ruslin memahami betul potensi yang dimiliki kampus tersebut. Dari mahasiswa, dosen, hingga sumber daya penelitian, semuanya dinilai memiliki kapasitas untuk bersaing dengan perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Karier akademiknya sendiri menjadi salah satu contoh perjalanan panjang dari kampus daerah menuju level nasional. Setelah menyelesaikan pendidikan di UHO, ia melanjutkan studi ke Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung hingga meraih gelar doktor dan guru besar.

Pengalaman itulah yang ingin ia bawa dalam visi kepemimpinannya jika dipercaya memimpin UHO.

Selain mendorong transformasi menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), Prof Ruslin juga menyiapkan agenda penguatan jejaring internasional, peningkatan kualitas program studi, serta penciptaan iklim akademik yang lebih inovatif dan produktif.

Baginya, masa depan UHO tidak cukup hanya menjadi kebanggaan Sulawesi Tenggara. Kampus itu harus mampu menjadi pusat ilmu pengetahuan yang dikenal lebih luas di tingkat nasional bahkan internasional.

Nomor 8 bagi saya adalah pengingat bahwa perjalanan UHO tidak boleh berhenti pada satu arah. Kita harus bergerak ke semua penjuru, membawa nama kampus ini menjadi lebih besar dan lebih dikenal dunia,” pungkasnya*