KENDARI, Kongkritpost.com- Kota Kendari berubah wajah. Tugu Religi yang biasanya tenang, Jumat (24/4/2026), mendadak menjadi panggung besar pembuka perayaan Hari Ulang Tahun ke-62 Sulawesi Tenggara. Nama acaranya megah: Harmoni Sultra, Produktif untuk Sultra Sejahtera.

Tanda dimulainya perayaan itu bukan sirene, bukan pula letusan kembang api. Melainkan dentuman bedug yang dipukul langsung Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka. Sebuah simbol sederhana, tetapi sarat pesan: Sultra ingin memulai usia baru dengan irama kebersamaan.

Di samping gubernur berdiri jajaran penting: Ketua TP PKK, Sekjen Kemdiktisaintek Prof. Badri Munir Sukoco, Plh Sekda Sultra, hingga 17 kepala daerah se-Sulawesi Tenggara. Lengkap sudah komposisi panggungnya. Dari birokrasi, akademisi, hingga pemimpin daerah, semua hadir dalam satu frame bernama persatuan.

Perayaan ini akan berlangsung empat hari, 24 hingga 27 April 2026. Panitia menyiapkan paket lengkap. Ada pawai budaya, pameran UMKM, festival Bokori, lomba pelajar, talkshow, kegiatan sosial, wisata bersama, fun bike, layanan kesehatan, hiburan rakyat, hingga atraksi dirgantara hasil kolaborasi Pemprov Sultra dengan TNI AU.

Bahasa sederhananya: ini bukan sekadar ulang tahun provinsi. Ini festival rasa, budaya, ekonomi, dan optimisme.

Namun di tengah semarak pembukaan, Gubernur Andi Sumangerukka juga menyampaikan nada teduh kepada masyarakat Wakatobi. Sebab sebelumnya, HUT ke-62 Sultra sempat direncanakan digelar di daerah wisata itu. Karena kendala teknis, pusat acara akhirnya dipindah ke Kendari.

ASR—sapaan populer gubernur—tak menutup mata atas kekecewaan yang muncul. Ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus memastikan perhatian pemerintah tetap mengalir ke Wakatobi. Di antaranya alokasi dana pendidikan Rp5 miliar untuk pembangunan sekolah serta dukungan pembangunan infrastruktur jalan.

Langkah itu dibaca banyak pihak sebagai gaya kepemimpinan yang memilih meredakan gelombang, bukan membiarkan ombak membesar. Politik tak selalu soal pidato tinggi. Kadang cukup soal mengakui keadaan dan memberi solusi.

Di akhir sambutannya, gubernur mengajak masyarakat menikmati seluruh rangkaian acara hingga penutupan. Ajakan yang sederhana, tetapi mengandung makna penting: pesta ini milik rakyat.

Sulawesi Tenggara kini berusia 62 tahun. Umur yang tidak muda, tetapi juga belum tua. Masih cukup kuat berlari, cukup matang menata arah. Dan dari Tugu Religi Kendari, sebuah pesan dilepas ke langit malam: harmoni bukan hanya tema acara, melainkan pekerjaan rumah yang harus terus dijaga bersama*