KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah hiruk-pikuk Kota Kolaka, masih berdiri sebuah kawasan yang menyimpan cerita tentang kejayaan, harapan, sekaligus peluang besar bagi masa depan pariwisata berbasis pertanian. Namanya Kampung Cokelat, sebuah destinasi agrowisata yang pernah menjadi magnet kunjungan masyarakat, namun dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat berbagai fasilitas pendukung yang mulai rusak.

Screenshot 20260720 233451 Gallery

Meski demikian, optimisme untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut tetap menyala. Dinas Perkebunan bersama para pengelola meyakini Kampung Cokelat masih memiliki daya tarik kuat untuk kembali menjadi tujuan wisata sekaligus pusat edukasi kakao di Sulawesi Tenggara.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kolaka, Andi Panguriseng, mengatakan Kampung Cokelat pernah menikmati masa kejayaan sejak dibuka untuk umum sekitar tahun 2018. Kala itu, kawasan tersebut dipadati pengunjung yang datang tidak hanya untuk menikmati suasana kebun kakao, tetapi juga merasakan pengalaman mencicipi produk olahan cokelat hasil produksi lokal Ujar Rabu (15/7/2026)

Screenshot 20260720 233442 Gallery

Menurutnya, pengunjung saat itu dapat melihat langsung proses pengolahan kakao hingga menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, termasuk selai cokelat yang diproduksi di lokasi. Konsep wisata seperti itu menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan pengalaman yang tidak ditemukan di destinasi wisata biasa.

Kini, semangat untuk mengembalikan kejayaan tersebut mulai diwujudkan melalui berbagai langkah pembenahan. Pengelola yang baru menjalankan tugas sekitar tujuh bulan terakhir mulai melakukan penataan administrasi, mendata seluruh potensi kawasan, hingga menyiapkan informasi destinasi yang dipasang di area kantor sebagai bagian dari peningkatan pelayanan kepada pengunjung.

Screenshot 20260720 233335 Gallery

Langkah tersebut menjadi fondasi awal sebelum dilakukan pengembangan yang lebih besar. Harapannya, Kampung Cokelat tidak hanya kembali ramai sebagai tempat rekreasi keluarga, tetapi juga berkembang menjadi pusat pembelajaran budidaya kakao dan hilirisasi produk cokelat.

Pengelola Kampung Cokelat, Adil, menuturkan bahwa sejak awal kawasan ini memang dirancang sebagai kebun edukasi yang mudah dijangkau masyarakat karena berada di dalam kota. Kehadirannya dimaksudkan agar anak-anak, pelajar hingga mahasiswa dapat mengenal tanaman kakao secara langsung tanpa harus mengunjungi perkebunan yang berada jauh dari pusat kota.

Screenshot 20260720 233432 Gallery

Menurutnya, konsep tersebut terbukti berhasil pada masa awal pengoperasian. Bahkan Kampung Cokelat pernah menjadi salah satu destinasi favorit di Kolaka dan dikunjungi ratusan orang setiap pekan. Tidak hanya wisatawan lokal, sejumlah pejabat negara, anggota legislatif hingga tamu dari luar negeri juga pernah datang melihat langsung proses budidaya dan pengolahan kakao.

Swiss dan Jepang menjadi dua negara yang pernah mengirimkan tamunya berkunjung ke kawasan ini. Kehadiran wisatawan dari Swiss bahkan menjadi kebanggaan tersendiri mengingat negara tersebut dikenal sebagai salah satu produsen cokelat terbaik di dunia. Kunjungan itu menunjukkan bahwa kakao dan produk olahan lokal Kolaka memiliki daya tarik hingga ke tingkat internasional.

Screenshot 20260720 233404 Gallery

Namun perjalanan Kampung Cokelat tidak selalu mulus. Seiring berjalannya waktu, sejumlah fasilitas mulai mengalami kerusakan. Gazebo yang dahulu menjadi tempat favorit pengunjung untuk bersantai kini banyak yang rusak. Lampu taman yang dahulu menghadirkan suasana indah pada malam hari juga tidak lagi berfungsi optimal. Di sisi lain, aspek keamanan kawasan dinilai masih perlu diperkuat agar fasilitas umum tidak kembali menjadi sasaran perusakan.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, aktivitas edukasi di Kampung Cokelat tidak pernah benar-benar berhenti. Hingga kini kawasan tersebut masih rutin menerima kunjungan pelajar mulai tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, SMP, SMA hingga mahasiswa. Mereka belajar mengenali tanaman kakao, proses budidaya, pascapanen, hingga menyaksikan secara langsung proses pengolahan biji kakao menjadi cokelat siap konsumsi.

Screenshot 20260720 233345 Gallery

Pengelola juga telah mengembangkan produksi cokelat premium lokal yang dapat dicicipi langsung oleh para peserta kunjungan edukasi. Aktivitas inilah yang menjadi bukti bahwa fungsi utama Kampung Cokelat sebagai pusat pembelajaran masih terus berjalan.

Adil berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar terhadap kawasan tersebut melalui kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah. Menurutnya, revitalisasi Kampung Cokelat tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan sinergi antara Dinas Pariwisata, Dinas Perkebunan dan Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki infrastruktur, menambah fasilitas pendukung, memperkuat pencahayaan, serta meningkatkan sistem keamanan.

Screenshot 20260720 233353 Gallery

Dengan kolaborasi yang baik, Kampung Cokelat diyakini mampu kembali menjadi ikon agrowisata Sulawesi Tenggara. Bukan hanya sebagai tempat berlibur, tetapi juga sebagai ruang belajar, pusat promosi kakao daerah, penggerak ekonomi masyarakat, sekaligus wajah baru pariwisata edukatif yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara(Red)