KENDARI, Kongkritpost.com- Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan pendidikan hari ini tidak lagi hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Anak-anak juga dituntut mampu memilah informasi, memahami etika bermedia, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pesan itulah yang dibawa Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kendari, Sahuriyanto Meronda, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kendari Tahun Ajaran 2026/2027.

Di hadapan para peserta didik baru, Sahuriyanto tidak berbicara tentang teknologi sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, ia mengajak para siswa melihat internet dan telepon pintar sebagai alat yang dapat membuka jalan menuju pengetahuan, kreativitas, dan masa depan yang lebih baik.

“Media sosial bukan hanya tempat untuk melihat-lihat konten. Di sana ada ruang untuk belajar, berkarya, berprestasi, berbagi kreativitas, bahkan membangun reputasi diri melalui hal-hal positif,” ujarnya dalam kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Abeli Dalam, Kecamatan Puuwatu, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi hadir dalam hitungan detik, tetapi tidak semuanya layak dipercaya atau dibagikan.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan berpikir kritis sebelum menekan tombol “bagikan”.

Bagi Sahuriyanto, kemampuan membaca informasi secara utuh jauh lebih penting dibanding kecepatan menyebarkannya. Ia mengajarkan prinsip sederhana kepada para siswa: membaca terlebih dahulu, mengendalikan emosi, memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan dampaknya, lalu memutuskan apakah informasi tersebut layak dibagikan atau tidak.

“Kita harus cepat membaca, tetapi lambat membagikan,” katanya.

Pesan itu terasa relevan di tengah meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga berbagai bentuk penyalahgunaan media sosial yang kerap melibatkan kalangan usia muda.

Tak hanya membahas informasi palsu, Sahuriyanto juga mengajak siswa memahami berbagai risiko yang mengintai di ruang digital. Mulai dari perundungan siber, kecanduan media sosial, pencurian data pribadi, penipuan daring, hingga ancaman peretasan akun.

Menurutnya, literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, melainkan juga kemampuan menjaga diri dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas digital.

Karena itu, para siswa diminta lebih berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi serta tidak mudah mengakses tautan yang sumbernya tidak jelas. Ia juga mengenalkan pentingnya penggunaan fitur keamanan digital, termasuk autentikasi dua faktor untuk melindungi akun pribadi.

Dalam sesi berikutnya, pembahasan beralih pada penggunaan telepon pintar atau handphone yang selama ini sering menjadi perdebatan dalam dunia pendidikan.

Bagi Sahuriyanto, persoalan utamanya bukan pada perangkatnya, melainkan pada cara menggunakannya.

Ia menilai sebuah handphone dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan untuk belajar, mencari referensi, mengembangkan keterampilan, hingga menghasilkan karya kreatif. Sebaliknya, perangkat yang sama juga dapat menjadi sumber gangguan apabila digunakan tanpa kendali.

“Yang penting bukan boleh atau tidak boleh menggunakan handphone, tetapi digunakan untuk apa dan berapa lama,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak para siswa membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata. Waktu belajar, berinteraksi dengan keluarga, beristirahat, serta menjalankan aktivitas sosial tetap harus menjadi prioritas utama.

Dalam kesempatan tersebut, Sahuriyanto juga mengapresiasi langkah Sekolah Rakyat yang menerapkan pengaturan penggunaan media sosial dan handphone di lingkungan sekolah. Kebijakan itu dinilainya sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang lebih fokus dan kondusif.

Bagi Pemerintah Kota Kendari, pendidikan literasi digital menjadi investasi penting untuk menyiapkan generasi masa depan. Di tengah transformasi teknologi yang berlangsung begitu cepat, anak-anak tidak cukup hanya menjadi pengguna perangkat digital, tetapi harus tumbuh sebagai warga digital yang cerdas, aman, produktif, dan beretika.

Sebab pada akhirnya, kecanggihan teknologi bukan ditentukan oleh perangkat yang digunakan, melainkan oleh kebijaksanaan orang yang menggunakannya. Dan pembelajaran tentang kebijaksanaan itu, mulai ditanamkan sejak hari pertama mereka memasuki lingkungan sekolah*